Sabtu, Maret 16, 2019

Dunia Bereaksi Dengan Peristiwa Penembakan Jama'ah Di New Zealand

Penembakan Jama'h di selandia baru
HarapanRakyat - Menyikapi aksi pelaku teror di dua masjid di Selandia Baru, Seluruh dunia mengecam dan bereaksi positif . Semua umat justru bergandengan tangan saling mendukung. Seperti yang dilakukan di New York,Amerika Serikat.

Dilansir pada halaman era.id menuliskan bahwa sejumlah petugas dari NYPD ditambahan untuk mengunjungi masjid-masjid di kota ini selama salat subuh berlangsung. Melalui akun twitternya, NYPD ingin memastikan keselamatan semua rumah ibadah dan kebebasan untuk menjalankan ibadah secara bebas tanpa rasa takut.

Gubernur New York, Andrew Cuomo dan Wali Kota New York, Bill de Blasio bilang, kehadiran dan penambahan polisi di masjid-masjid memang merupakan reaksi akibat serangan teror di Selandia Baru. Tapi mereka menjamin bahwa kehadiran petugas ini untuk menjaga agar umat muslim bisa beribadah dengan tenang.

Wali Kota New York, Bill de Blasio, mengatakan pemerintah menjamin kebebasan wargaya untuk menjalankan ibadahanya masing-masing.
Ia juga mengatakan kehadiran polisi bersenjatakan lengkap itu diharapkan tidak mengganggu kekhusyukan beribadah.

"Kami akan bekerja sama agar semua warga negara aman," katanya. 

Sejumlah anggota polisi antiteror bersenjatakan lengkap di New York menjaga beberapa masjid dan tempat studi Islam di kota tersebut untuk mencegah hal yang tidak dinginkan. Hal ini sebagai antisipasi dari buntut serangan teror di dua masjid di Kota Christchurch, Selandia Baru yang sedikitnya menewaskan 40 orang.

"Warga New York yang sedang beribadah dapat yakin kalau kota mereka akan melindungi mereka," kata de Blasio seperti dilansir CNN, Jumat (15/3/2019). 

Korban terbanyak dalam serangan teror itu terjadi di Masjid Al Noor, Christchurch. 41 orang tewas di dalam masjid. Tujuh orang lagi tewas dalam serangan di Masjid Linwood. Sedangkan satu orang lagi meninggal karena luka-luka di rumah sakit.

Mohan Ibrahim, salah satu saksi mata, menuturkan dia merupakan satu di antara sekitar 200 orang yang berada di Masjid Al Noor saat penembakan terjadi.

"Awalnya kami berpikir itu sengatan listrik, tetapi kemudian semua orang mulai berlarian," tutur Ibrahim  dilansir dari  New Zealand Herald

Brenton Tarrant, satu dari empat pelaku yang berhasil ditangkap, mendengar lagu The British Grenadiers sebelum memasuki Masjid Al Noor di Christchurch, Selandia Baru. Hasil penyelidikan sementara mengidentifikasi Tarrant sebagai pria berusia 28 tahun dengan status kewarganegaraan Australia.

The British Grenadiers adalah lagu tradisional unit militer Inggris dan Kanada yang berasal dari abad ke-17. Lagu ini kerap digunakan dalam upacara dan agenda-agenda sejumlah kesatuan militer di bawah kerajaan. Penamaan 'Grenadiers' bagi resimen ini merujuk pada lencana berlambang granat yang mereka gunakan.

Asal-usul dari lagu ini masih diperdebatkan. Nada dalam lagu ini pernah muncul dalam koleksi lagu-lagu dansa milik John Playford pada tahun 1728 dan disebut sebagai The New Bath. Sementara itu, musisi William Chappell malah merelasikan nada The British Grenadiers dengan sebuah karya berjudul Sir Edward Nowell's Delight tahun 1622. Segala perdebatan soal asal-usul lagu The British Grenadiers ini kemudian dirangkum oleh komposer Ernest Walker pada tahun 1907.

Salah satu korban selamat lainnya, Ramzan Ali menceritakan bahwa khatib sedang memberikan ceramah pukul 13.42 waktu setempat dan saat itu penembakan mulai terjadi, dan pelaku terus menembak. Dia mengaku tidak sempat melihatnya karena ia baru saja sampai dan langsung duduk. 

"Saya tertembak dan tidak percaya saya bisa selamat. Saya orang terakhir yang keluar masjid sterlah penembakan  terjadi dan banyak jasad korban," Jelas Ramzan Ali dalam sebuah video yang bereda di internet.


Red> Sakti

SHARE THIS

Author:

MARI MEMBANGUN KEBERSAMAAN, BERSAMA KITA BERJUANG

0 Please Share a Your Opinion.:

Diharap Memberi Komentar Yang Sopan & Santun
Terimakasih Atas Partisipasi Mengunjungi Web Kami

Hukum

Kesehatan

»

Serba Serbi

Artikel Penting Untuk Dibaca

loading...
loading...